Ada lagi satu orang baru dalam hidupku.Sebenarnya sih bukan orang baru, karena sebelumnya sudah sering aku melihat keberadaannya.Tapi, entah kenapa di saat sudah menjadi teman dan bercerita tentang banyak hal,
ada sesuatu yang mencuat ke luar. Sebenarnya tidak ingin memikirkan, tapi terpikirkan juga. Sampai kapan harus berakhir? karena tanpa sadar semuanya telah dimulai.
Tak ingin banyak berharap, hanya ingin mengekspresikan. Semua yang terjadi biarlah tetap terjaga, karena aku nyaman bersamanya, sebagai seorang teman untuk saat ini. Tapi, entah apa yang menghasutku hingga hampir nekad ingin bertanya pada-Nya lebih jauh. Bertanya tentang sesosok orang baru dalam hidupku saat ini.
Sekecil apapun yang dilakukannya padaku, mau tak mau mengundang tanya bagiku. Terlebih lagi, tanpa sadar mengajakku memikirkan apa yang seharusnya tak perlu dianalisis. Lebih baik hentikan sekarang, atau perjalanan bisa semakin jauh. I don't know, Just hope the best..
welcome
Shalom...
Rabu, 25 November 2009
Minggu, 15 November 2009
TST (Taat, Setia, dan Tekun)
Bagaimana Tuhan memakai anak2-Nya?
Tidak banyak orang yang dapat taat ketika Tuhan memerintahkan untuk melakukan sesuatu di luar pikirannya. Tidak banyak orang yang dapat setia ketika harus menunggu janji Tuhan digenapi. Tidak banyak orang yang dapat tekun melakukan Firman-Nya. Dan ketika tidak banyak orang yang menjadi umat yang taat, setia, dan tekun, maka di saat itulah kita harus mencoba untuk menjadi bagian dari "hanya sedikit orang" yang dapat menjadi taat, setia dan tekun bagi kemuliaan Tuhan. Mari rebut kesempatan itu.
Tidak cukup waktu jika hanya sekedar menunggu. Jangan menunggu keadaan dapat segera berubah. Jadilah sang pengubah bersama Dia. Amin..
Tidak banyak orang yang dapat taat ketika Tuhan memerintahkan untuk melakukan sesuatu di luar pikirannya. Tidak banyak orang yang dapat setia ketika harus menunggu janji Tuhan digenapi. Tidak banyak orang yang dapat tekun melakukan Firman-Nya. Dan ketika tidak banyak orang yang menjadi umat yang taat, setia, dan tekun, maka di saat itulah kita harus mencoba untuk menjadi bagian dari "hanya sedikit orang" yang dapat menjadi taat, setia dan tekun bagi kemuliaan Tuhan. Mari rebut kesempatan itu.
Tidak cukup waktu jika hanya sekedar menunggu. Jangan menunggu keadaan dapat segera berubah. Jadilah sang pengubah bersama Dia. Amin..
Jumat, 06 November 2009
Begitulah
Hidupku smakin berat,saat perjalanan terasa smakin jauh.
Inikah tanda yg benar?
Atau jangan2 aq telah salah jalan?
Inikah tanda setiap perjalanan hidup?
Tak pernah kutahu apa yg menantiku di sana.
Tapi satu hal yg mesti kulakukan.
Taat & setia.
Itu hal tersulit rasaku.
Seperti percaya sebelum melihat.
Itu beriman namanya.
Fiuhh.. Sanggupkah aq bertahan hingga garis akhir?
Semoga.. Amin..
Inikah tanda yg benar?
Atau jangan2 aq telah salah jalan?
Inikah tanda setiap perjalanan hidup?
Tak pernah kutahu apa yg menantiku di sana.
Tapi satu hal yg mesti kulakukan.
Taat & setia.
Itu hal tersulit rasaku.
Seperti percaya sebelum melihat.
Itu beriman namanya.
Fiuhh.. Sanggupkah aq bertahan hingga garis akhir?
Semoga.. Amin..
Senin, 12 Oktober 2009
Ingin Kembali
Aku seperti orang kehilangan fokus. Atau mungkin lebih tepatnya, aku hampir melupakan fokusku. Betapa indanhnya hidupku dulu saat fokus itu masih kugenggam erat. Betapa indahnya saat aku berjalan bersama fokus hidupku itu. Ada apa sebenarnya? aku pun tak mengerti. Semua tetap berjalan, namun terasa ada yang berbeda. Aku merasa terlalu takut berjalan sendiri. Aku merasa aku hampir kehilangan fokus. Aku butuh fokus. Aku butuh Sang Fokus. Entahlah, aku pun tak tahu apa yang kucari di bumiku. Aku berjalan tapi tak tahu di mana ujung jalannya. Aku berjalan, tapi kenapa merasakan takut? Aku ingin kembali, kembali pada fokus. Aku ingin kembali, kembali pada Sang Fokus. As soon as possible, i will be right back. Amin..
Rabu, 12 Agustus 2009
Fiksi : DoReMiFaSol
Persahabatan itu ibarat perpaduan nada-nada indah.
Meskipun berbeda-beda, tapi ketika nada-nada itu bergabung
dan membentuk birama-birama,
terciptalah musik, terciptalah lagu,
yang selanjutnya akan dinikmati banyak orang…
Meskipun berbeda-beda, tapi ketika nada-nada itu bergabung
dan membentuk birama-birama,
terciptalah musik, terciptalah lagu,
yang selanjutnya akan dinikmati banyak orang…
Bayangkan jika di dunia ini hanya ada nada do, re, mi, fa, atau sol saja. Mungkin tidak akan ada lagi yang namanya lagu indah, tidak ada musik, tidak ada lagi paduan suara, dan sejenisnya. Yang ada hanya nada datar, tanpa variasi, tanpa keindahan. Bahkan suara merdu Mariah Carey sekalipun akan terdengar fals. Ternyata bukan karena kesamaan maka terjadi keindahan, namun karena ada perbedaan yang membuat sesuatu terlihat lebih indah. Lebih terasa maknanya. Seperti itulah persahabatan.
Aku teringat saat pertama kali masuk ke kampus ini. Kampus yang cukup populer dan saat itu yang ada dalam pikiranku hanyalah, “aku tidak akan dapat teman di sini.” Aku sangat pemalu, tidak seperti Renata yang supel dan penuh kehebohan.
Aku juga tidak seperti Tomi, yang penuh dengan bakat. Dengan mudahnya dia merebut hati para wanita di kampusku. Waktu OSPEK dulu dialah yang terpilih sebagai peserta paling berbakat. Nyanyi oke, main gitar apalagi. Sungguh-sungguh anak yang beruntung, pikirku.
Aku juga tidak seperti Falisa, dia itu pintar sekali berbahasa Inggris. Padahal kalau diingat-ingat sudah berapa lama aku mempelajari bahasa yang satu itu, tapi tetap saja aku tidak mahir bercakap-cakap alias conversation. Tentu saja dengan itu Falisa menjadi juara speech (pidato bahasa Inggris) waktu OSPEK.
Yang paling parahnya aku juga tidak seperti Solomon, pria paling tampan di kampusku (menurutku..). Ugh... Bahkan gebetanku, Lastri, pun tidak berkedip saat memandang Solomon berlenggang-kangkung di acara bintang berbakat di OSPEK kami. Dengan gaya natural dan tentu saja didukung wajah tampannya itu, semua mata tertuju padanya. Jujur saja, aku iri padanya. Bukan hanya karena dia blasteran Manado-Belanda, tapi terlebih lagi karena pujaan hatiku juga terpikat oleh ketampanannya.
Betapa menyedihkannya diriku dan tidak ada yang menarik dari diriku, pikirku saat itu. Begitulah, waktu itu aku belum menyadari betapa Tuhan mengasihiku dan Dia memiliki rancangan indah bagiku. Hanya mengasihani diri sendiri, mungkin itulah yang kutahu saat itu.
Tapi Puji Tuhan, cukup sebulan saja aku terhimpit dalam pikiran-pikiran bodohku. Pikiran-pikiran yang hanya sebatas pikiran, hanya kesemuan belaka, karena sesungguhnya mereka memang tidak nyata sama sekali.
Itulah saat yang tidak akan pernah kulupakan. Saat Renata menyapaku dan mengajakku masuk dalam kelompok kecilnya. Bukan karena aku terpesona padanya, maka aku selalu mengingat moment itu. Tapi terlebih lagi karena dia mau memandang aku yang tidak ada apa-apanya ini. Si Batak Tembak Langsung, yah, itulah julukan orang-orang tentangku.
Akan tetapi, ada hal yang lebih tidak kusangka lagi. Di kelompok kecil itu juga ada Solomon, pria blasteran. Kenapa sih aku harus satu kelompok dengan dia? Risih juga dengar aksen Belandanya saat dia bicara. Sempat terpikir olehku, andaikan saja bapakku dulu juga bisa menikah dengan none-none Belanda, mungkin aku akan setampan Solomon juga. Akhh, apa sih yang kupikirkan? Gak, biarpun mamaku juga orang Batak, aku tetap bangga dan sangat menyayangi mamaku.
Hari berganti hari, akhirnya aku semakin mengenal teman-teman kelompokku. Renata, si Jawa Batak. Tomi, si keturunan Nias-Tionghoa, dan Falisa, si boru Karo. Aku pun sampai bingung, kenapa dia bisa begitu fasihnya berbicara bahasa Inggris.
Bulan berganti bulan, keakraban kami pun mulai terjalin. Memang, tidak bisa dipungkiri ini berkat Renata juga, karena dialah yang paling kreatif dan heboh. Selama kami kelompok, Renata selalu membuat games dan bentuk keceriaan lainnya. Bahkan abang kelompok kami yang notabene adalah keturunan India pun jadi heran sekaligus bersyukur dibuatnya.
Kini, tiga semester sudah kami lalui bersama. Pertumbuhan yang dilalui bersama. Kejatuhan yang berganti-gantian membuat kami saling membangkitkan dan meneguhkan. Sungguh luar biasa. Tuhan menyatukan perbedaan dalam satu persamaan. Meskipun terkadang ada kalanya terjadi pergesekan karakter di antara kami. Mungkin bukan hanya karena perbedaan gender, tapi juga perbedaan watak dan kebiasaan dari etnik yang berbeda-beda.
Akan tetapi, kami yang tadinya berasal dari latar belakang yang beragam, kini sudah setara dan sama di hadapan-Nya. Kini semuanya telah berasal dari rahim yang sama. Lahir baru. Hanya karena Kristus.
Ya, saat ini aku sudah tidak berpikir sempit lagi. Saat ini aku sudah berani berkata bahwa, aku bukanlah orang paling menyedihkan di dunia ini. Apa yang tidak kupikirkan itu yang Tuhan sediakan bagiku. Tak terselami pikiran-Mu, Tuhan. Bulan lalu aku terpilih sebagai juara dalam pertandingan karya tulis yang disponsori oleh Menpora, dan semester depan aku akan berangkat ke Singapura. Aku akan maju sebagai wakil Indonesia, mengharumkan nama Indonesia di negeri orang. Thanx God…
Langganan:
Postingan (Atom)