Persahabatan itu ibarat perpaduan nada-nada indah.
Meskipun berbeda-beda, tapi ketika nada-nada itu bergabung
dan membentuk birama-birama,
terciptalah musik, terciptalah lagu,
yang selanjutnya akan dinikmati banyak orang…
Meskipun berbeda-beda, tapi ketika nada-nada itu bergabung
dan membentuk birama-birama,
terciptalah musik, terciptalah lagu,
yang selanjutnya akan dinikmati banyak orang…
Bayangkan jika di dunia ini hanya ada nada do, re, mi, fa, atau sol saja. Mungkin tidak akan ada lagi yang namanya lagu indah, tidak ada musik, tidak ada lagi paduan suara, dan sejenisnya. Yang ada hanya nada datar, tanpa variasi, tanpa keindahan. Bahkan suara merdu Mariah Carey sekalipun akan terdengar fals. Ternyata bukan karena kesamaan maka terjadi keindahan, namun karena ada perbedaan yang membuat sesuatu terlihat lebih indah. Lebih terasa maknanya. Seperti itulah persahabatan.
Aku teringat saat pertama kali masuk ke kampus ini. Kampus yang cukup populer dan saat itu yang ada dalam pikiranku hanyalah, “aku tidak akan dapat teman di sini.” Aku sangat pemalu, tidak seperti Renata yang supel dan penuh kehebohan.
Aku juga tidak seperti Tomi, yang penuh dengan bakat. Dengan mudahnya dia merebut hati para wanita di kampusku. Waktu OSPEK dulu dialah yang terpilih sebagai peserta paling berbakat. Nyanyi oke, main gitar apalagi. Sungguh-sungguh anak yang beruntung, pikirku.
Aku juga tidak seperti Falisa, dia itu pintar sekali berbahasa Inggris. Padahal kalau diingat-ingat sudah berapa lama aku mempelajari bahasa yang satu itu, tapi tetap saja aku tidak mahir bercakap-cakap alias conversation. Tentu saja dengan itu Falisa menjadi juara speech (pidato bahasa Inggris) waktu OSPEK.
Yang paling parahnya aku juga tidak seperti Solomon, pria paling tampan di kampusku (menurutku..). Ugh... Bahkan gebetanku, Lastri, pun tidak berkedip saat memandang Solomon berlenggang-kangkung di acara bintang berbakat di OSPEK kami. Dengan gaya natural dan tentu saja didukung wajah tampannya itu, semua mata tertuju padanya. Jujur saja, aku iri padanya. Bukan hanya karena dia blasteran Manado-Belanda, tapi terlebih lagi karena pujaan hatiku juga terpikat oleh ketampanannya.
Betapa menyedihkannya diriku dan tidak ada yang menarik dari diriku, pikirku saat itu. Begitulah, waktu itu aku belum menyadari betapa Tuhan mengasihiku dan Dia memiliki rancangan indah bagiku. Hanya mengasihani diri sendiri, mungkin itulah yang kutahu saat itu.
Tapi Puji Tuhan, cukup sebulan saja aku terhimpit dalam pikiran-pikiran bodohku. Pikiran-pikiran yang hanya sebatas pikiran, hanya kesemuan belaka, karena sesungguhnya mereka memang tidak nyata sama sekali.
Itulah saat yang tidak akan pernah kulupakan. Saat Renata menyapaku dan mengajakku masuk dalam kelompok kecilnya. Bukan karena aku terpesona padanya, maka aku selalu mengingat moment itu. Tapi terlebih lagi karena dia mau memandang aku yang tidak ada apa-apanya ini. Si Batak Tembak Langsung, yah, itulah julukan orang-orang tentangku.
Akan tetapi, ada hal yang lebih tidak kusangka lagi. Di kelompok kecil itu juga ada Solomon, pria blasteran. Kenapa sih aku harus satu kelompok dengan dia? Risih juga dengar aksen Belandanya saat dia bicara. Sempat terpikir olehku, andaikan saja bapakku dulu juga bisa menikah dengan none-none Belanda, mungkin aku akan setampan Solomon juga. Akhh, apa sih yang kupikirkan? Gak, biarpun mamaku juga orang Batak, aku tetap bangga dan sangat menyayangi mamaku.
Hari berganti hari, akhirnya aku semakin mengenal teman-teman kelompokku. Renata, si Jawa Batak. Tomi, si keturunan Nias-Tionghoa, dan Falisa, si boru Karo. Aku pun sampai bingung, kenapa dia bisa begitu fasihnya berbicara bahasa Inggris.
Bulan berganti bulan, keakraban kami pun mulai terjalin. Memang, tidak bisa dipungkiri ini berkat Renata juga, karena dialah yang paling kreatif dan heboh. Selama kami kelompok, Renata selalu membuat games dan bentuk keceriaan lainnya. Bahkan abang kelompok kami yang notabene adalah keturunan India pun jadi heran sekaligus bersyukur dibuatnya.
Kini, tiga semester sudah kami lalui bersama. Pertumbuhan yang dilalui bersama. Kejatuhan yang berganti-gantian membuat kami saling membangkitkan dan meneguhkan. Sungguh luar biasa. Tuhan menyatukan perbedaan dalam satu persamaan. Meskipun terkadang ada kalanya terjadi pergesekan karakter di antara kami. Mungkin bukan hanya karena perbedaan gender, tapi juga perbedaan watak dan kebiasaan dari etnik yang berbeda-beda.
Akan tetapi, kami yang tadinya berasal dari latar belakang yang beragam, kini sudah setara dan sama di hadapan-Nya. Kini semuanya telah berasal dari rahim yang sama. Lahir baru. Hanya karena Kristus.
Ya, saat ini aku sudah tidak berpikir sempit lagi. Saat ini aku sudah berani berkata bahwa, aku bukanlah orang paling menyedihkan di dunia ini. Apa yang tidak kupikirkan itu yang Tuhan sediakan bagiku. Tak terselami pikiran-Mu, Tuhan. Bulan lalu aku terpilih sebagai juara dalam pertandingan karya tulis yang disponsori oleh Menpora, dan semester depan aku akan berangkat ke Singapura. Aku akan maju sebagai wakil Indonesia, mengharumkan nama Indonesia di negeri orang. Thanx God…